Pengibaran Bendera Merah Putih Tanpa Lagu Kebangsaan (Tulisan)

Oleh : Hajalia Somba _ (MEDIAPALU.com) – Hari ini ku coba berbagi cerita yang membuatku miris melihat sebuah kenyataan didepan mata, yang besar kemungkinan hal seperti ini sudah lama berlangsung atau bahkan juga terjadi ditempat yang lain.

Hari itu senin 12 desember 2011 merupakan hari kedua kami bersama puluhan kawan dari Front Anti Kekerasan (FAK) masih bertahan melakukan aksi pendudukan atau meninap di gedung rakyat Sulawesi Tengah.

Aksi ini merupakan rangkaian dari peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia dimana berbagai kasus pelanggaran HAM yang terjadi dinegeri ini begitu terlihat jelas dipertontonkan secara telanjang oleh sang penguasa negeri ini yang lebih melindungi dan berpihak kepada kepentingan pemilik modal besar (baca : kaum kapiltalis) dibanding kepentingan petani, buruh, kaum miskin kota dan rakyat miskin lainnya dinegeri ini. Dan sekaligus aksi solidaritas buat kawan sondang hutagalung yang meninggal yang sebelumnya melakukan aksi bakar diri didepan istana sebagai bentuk protesnya atas berbagai kebijakan pemerntah yang bekuasa saat ini.

Ditengah semangat perlawanan dan perjuangan ini, sambil menunggu kawan-kawan lain yang akan datang bergabung dalam aksi ini aku dan kawan-kawan menyaksikan kesibukkan mereka yang berseragam lengkap dan rapi untuk melaksanakan upacara bendera yang merupakan kewajiban atau apapun namanya karena sudah menjadi kebiasaan untuk dilaksanakan setiap hari senin seperti halnya yang dilakukan disekolah saat aku masih sekolah, bahwa setiap hari senin bel sekolah akan berbunyi lebih awal yakni pukul 07.00 Wita untuk melaksanakan upacara sebelum masuk diruang belajar (namun di halaman kantor ini, kesibukkan persiapan upacara dilakukan ketika jam sudah menunjukkan pukul 08.00 wita).

Dan begitu bangga dan semangatnya aku ataupun siswa lain untuk menjadi petugas pengibar sang Merah Putih dengan iringan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan siswa yang lain dan aku yakin hal itu masih terjadi dan dilakukan sampai saat ini dimanapun wilayah republic tercinta ini.

Atau cerita lain, dimana kita tahu belum lama berlangsungnya pesta Sea Games dan Negara kita sebagai penyelenggara. Begitu menggelegarnya setiap stadiun lapangan pertandingan berbagai cabang olahraga saat sang Merah Putih bias dikibarkan dengan iringan lagu kebangsaan Indonesia Raya setiap kali Atlit kita meraih medali Emas bisa dihitung dari banyaknya medali Emas yang membuat Negara kita menjadi juara umum maka sebanyak itu pula lagu kebangsaan kita dimenggetarkan semangat rakyat Indonesia.
Namun hari itu, dipagi yang cerah dengan pancaran sinar matahari yang indah kami pun menyaksikan proses upacara di halaman Gedung DPRD Propinsi Sulawesi Tengah.

Tiba saatnya protokol membacakan Pengibaran Sang Saka Merah Putih, maka dengan tegap tiga orang yang ditugaskan berjalan, meski tak terdengar dentum sepatu mereka karena memang dirumput padang. Meski aku dan kawan-kawan tidak ikut berbaris namun beberapa dari kami ikut berdiri. Setelah tali bendera terikat dan Merah Putih siap di kibarkan, komandan upacara memerintahkan untuk member penghormatan, dan semua peserta upacara mengikutinya.

Aku dan kawan-kawanpun menunggu dengan hening, memasang pendengaran agar tidak terlewatkan, dan sungguh aku dan kawan-kawan terkejut. Dalam keheningan itu ternyata memang hening dan sepi dan Sang Merah Putih sudah berada hampir diujung tiang yang jelas tidak setinggi tiang bendera didepan rumahku. Dan tiba saatnya komandan upacara memerintahkan menurunkan tangan tanda penghormatan selesai karena bendera sebagai lambang Negara ini sudah sampai diujung tiang dan terikat dengan kuatnya.

Artinya begitu cepat sang Merah Putih sampai kepuncak tiang tanpa sedikitpun terdengar lantunan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh semua peserta upacara. Begitu beratnyakah bibir bergerak untuk mengeluarkan suara menyanyikan lagu kebangsaan ini yang mungkin akan begitu terdengar kuat saat bersenandung di kamar mandi atau saat mengikuti lagu-lagu yang lagi trend di acara music di TV.

Begitu mahalnyakah harga sebuah kaset Lagu Kebangsaan ini untuk dibeli agar sang Merah Putih dapat diiringi saat akan dikibarkan jika memang bibir mereka sudah keluh. Ataukah memang lagu kebangsaan ini sudah terlupakan sehingga tidak dapat dilafalkan lagi? bagaimana mungkin kaum muda kita bisa tidak lupa akan lagu kebangsaannya sendiri jika di halaman gedung wakil rakyat ini lagu kebangsaan inipun sudah tidak menjadi sebuah keharusan untuk dinyanyikan saat mengiringi pengibaran Sang Saka Merah Putih. Aku dan kawan-kawan terhenyak dan sadar bahwa kamipun terbawa suasana hening tanpa sadar Sang merah putih sudah berada dipuncak.

Hal yang lain ingin kugambarkan dalam tulisan ini, bahwa ternyata saat mendengar instruktur upacara menyampaikan arahannya bahwa “ melalui apel pagi ini diharapkan agar semua pegawai dapat mengikuti apel pagi ini dan dapat menyelesaikan semua laporan kerjanya karena masih banyak yang belum terselesaikan” (begitulah kira-kira gambarannya) karena memang cukup singkat arahan yang disampaikan.

Aku dan kawan-kawan pun sadar ternyata bukan Upacara melainkan apel pagi.

Apakah hal ini menjadi sama saja dengan hari-hari lain selama 5 hari kerja ?? bukankah apel pagi dihari lain selain senin itu pengibaran sang Merah putih tidak dilaksanakan ? Ataukah juga dilaksanakan tapi prosesnya juga tetap seperti ini ?? aku dan kawan-kawan hanya bertanya karena memang tidak ada yang bisa menjawabnya.

Kemudian melirik kembali isi dari arahan instruktur atau Pembina upacara (baca : kalau di sekolah) yakni agar semua pegawai kedepan harus terlibat dalam apel pagi yang artinya Apel pagi ini masih ada yang tidak ikut, dan memang ternyata tak satupun yang namanya wakil rakyat di tingkat propinsi ini ikut dalam upacara atau apel pagi. Kembali muncul pertanyaan diantara kami, apakah apel pagi atau paling tidak apel khusus di hari senin untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih ini tidak diwajibkan kepada mereka yang katanya wakil rakyat dari semua kabupaten dan kota di propinsi ini untuk ikut terlibat ?

Ataukah ini memang sebuah hal yang biasa dan wajar terjadi ? dan adakah hal ini juga terjadi di Kantor Perwakilan rakyat di semua kabupaten dan kota di propinsi ini bahkan mungkin juga di daerah lain berlaku hal yang sama ??

lagi-lagi pertanyaan yang jelas tidak satupun dari aku dan kawan-kawan bisa menjawabnya. Namun ada kawan yang menjawab mungkin para wakil rakyat kita setiap hari senin pagi tidak berada di tempat karena sedang mengurus masalah kesejahteraan rakyat, atau mungkin sedang diluar kota melakukan kunjungan dan studi banding.

Miris rasanya bila mengingat saat masih sekolah, dimana jika terlambat dan tidak mengikuti upacara maka akan mendapat sanksi menghormat Sang Merah Putih di di tengah lapangan sekolah. Didikan agar siswa disiplin dan menghormati betapa sulitnya perjuangan para pahlawan negeri ini untuk memperjuangkan kedaulatan bangsa ini dari tangan penjajah, dan begitu banyak pengorbanan yang dipersembahkan oleh para pejuang negeri ini untuk dua warna kain yakni Merah Putih ini.

Dan begitu besarnya jasa pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya bapak Wage Rudolf Soepratman menorehkan penanya menuliskan nada dan bait demi bait dari lagu yang menjadi kebanggaan yang dapat mengobarkan semangat juang rakyat Indonesia untuk terlepas dari penjajahan. Mungkin jika beliau (WR. Supratman) masih hidup saat ini maka akan meneteskan air matanya melihat kondisi seperti ini, atau begitu tidak bermaknanyakah lagu kebangsaan ini ?

Maka jangan heran jika jiwa patriotisme atas negeri menurun karena sekian lama terjajah oleh system neoliberalisme yang dipraktekan oleh pemerintah yang berkuasa. Sehingga dengan mudahnya Negara tetangga kita dapat merebut dan mengakui sebagian wilayah kepulauan bangsa Indonesia bahkan beberapa budaya kita pun dapat diklaim oleh Negara lain.

Semua itu terjadi akibat Pemerintahan kita saat ini secara ekonomi dimana perekonomian bangsa ini semakin mendekati kapitalisme liberal karena pemerintah kita telah gagal menjalankan atau melaksanakan amanah UUD 1945 khususnya pada pasal 33 yang isinya “Bumi, air, udara dan kekayaan alam yang terkadung didalamnya dikuasai oleh Negara untuk kemakmuran rakyat apalagi setelah mengalami amandemen sebanyak empat kali.

Lihat saja bagaimana Kekayaan alam seperti air, minyak, gas, telekomunikasi, pelayanan barang, hingga sektor pendidikan hampir semua sendi perekonomian dikuasai pemilik modal asing.

Lihat pula banyaknyan izin kontrak karya pertambangan dan perkebunan sawit antara lain PT. Mulia Pasific Resources (MPR), PT. Bintang Delapan Mineral, Medco, Inco, PT. KLS dan lainnya yang beroperasi diwilayah Sulawesi Tengah dimana dalam proses eksploitasi sumberda daya alam tersebut sama sekali tidak memberi manfaat bagi kesejahteraan rakyat di sekitarnya, justru menimbulkan dampak kerusakan lingkungan bahkan ketika rakyat melakukan protes atas semua dampak negative dari beroperasinya perusahaan tersebut justru petanilahlah yang dikriminalisasikan, bahkan harus menjadi sasaran tembak dari aparat keamanan.

Dan untuk wilayah Sulawesi secara umum akan terus meningkatkan produksi sumber daya alam terutama nikel apalagi didukung oleh kebijakan dikeluarkan pada tanggal 20 mei 2011 yakni Pepres No. 32 tahun 2011.

Secara politik kita telah menjadi Negara yang liberal karena politik kita sepenuhnya menganut free fight liberalism yang merupakan sesuatu yang sangat ditentang oleh para pendiri bangsia ini.

Padahal para founding father bangsa ini sebelumnya sudah memperingatkan agar tidak menganut kapitalisme karena hal ini akan menciptakan eksploitasi dan ketidakadilan. Hal ini semakin diperparah dengan lahirnya berbagai produk undang-undang yang nafasnya adalah neoliberalisme karena sebagian besar produk Undang-Undang itu merupakan titipan IMF dan Bank Dunia melalui parlemen.

Mari kita lihat berbagai contoh Undang-Undang yang jelas pro neoliberal antar lain : UU Nomor 22 tahun 2011 tentang Migas, UU Nomor 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara, UU Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal, UU Nomor 7 than 2004 tentang Sumber Daya Air, UU nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, UU Nomor 19 tentang Kehutanan dan yang baru-baru ini disahkan adalah RUU Pengadan tanah untuk Kepentingan Publik bersamaan disaat petani melakukan aksi pendudukan di gedung DPR RI Jakarta Desember 2011 bahkan sampai saat ini.

Dan masih banyak lagi produk kebijakan yang benar-benar tidak pro kepada rakyat Perundang-undangan yang mengesahkan agenda perdagangan bebas yakni UU Nomor 38 taahun 2008 tentang pengesahan Piagam ASEAN, UU perdagangan, UU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan masih banyak lagi. Hal ini sangat jelas dipertontonkan kepada rakyat diseluruh negeri ini. Maka jika sumber daya alam kita sudah habis dikuasai dan diklaim oleh pihak asing maka akibat berbagai produk kebijakan yang pro kepada pemilik modal asing maka jangan kaget jika kedepan tidak menutup kemungkinan lagu kebangsaan Indonesia Raya pun akan diklaim oleh Negara lain karena tidak sedikit kemungkinan banyak aparatur Negara ini yang sudah lupa akan bait lagu kebangsaan ini bila melihat hal yang terjadi di Gedung DPR Propinsi Sulawesi Tengah.

Mungkin kedepan ada yang akan melakukan penelitian seberapa banyakkah masyarakat kita yang masih menghafal lagu kebangsaan kita, atau justru rakyat kita masih hafal namun justru para pejabat dinegeri ini justru sudah lupa karena hanya dinyanyikan saat peringatan 17 agustus saja yakni sebagai peringatan hari kemerdekaan Indonesia dan sebagian besar waktunya mengerjakan hal-hal administrative dan menyusun draft-draft kebijakan yang tidak memihak kepada rakyatnya sendiri.

Masihkah ada harapan bahwa apa yang terlihat saat itu tidak terjadi pula di wilayah lain di negeri ini. Mungkin hal ini menjadi sepele bagi mereka, namun bagi aku selaku anak negeri ini sangat prihatin dan miris ditengah kondisi ekonomi rakyat semakin termiskinkan akibat berbagai hal, termasuk kebijakan pemerintah dimana rakyat harus menjadi buruh ditanah sendiri. Kumandang lagu Kebangsaan Indonesia Raya akan teruskah mengobarkan semangat kaum muda dinegeri ini jika hal itu tidak diteladani oleh para wakil rakyat kita.

Harapan itu masih ada jika kita berada di tengah lapangan upacara di sekolah-sekolah tapi tidak di halaman Gedung DPR ini. www.Mediapalu.com _ Penulis adalah Staff Pendidikan Dan Pengorganisasian di Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR) dan Anggota dari Front Penyelamat Kedaulatan Rakyat (FPKR) Sulawesi Tengah.

One Comment on “Pengibaran Bendera Merah Putih Tanpa Lagu Kebangsaan (Tulisan)”

  • yudhie wrote on 27 December, 2011, 23:12

    para pejabat telah mengkianati sang merah putih miris melihat kenyataan ini

Write a Comment

Gravatars are small images that can show your personality. You can get your gravatar for free today!

Copyright © 2014 . All rights reserved. Maintained by: Thony Irawanto (TelukPalu.com)