Agustus 14, 2020

Akses Jalan Desa Jono Oge- Sidera Terputus, Ini Harapan Masyarakat Kedua Desa

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SIGI – Intensitas curah hujan yang cukup tinggi terjadi di Kabupaten Sigi mengakibatkan sejumlah wilayah diwilayah Sigi terdampak bencana, salah satunya terjadi akses diruas jalan di Desa Jono Oge dan Sidera, Sigi Biromaru yang terjadi sejak Kamis 9 juli 2020.

Akibatnya debit aliran Sungai Paneki meluap kebadan jalan sehingga menyebabkan akses jalan yang menghubungkan antara dua desa terputus, sehingga sejumlah kendaraan harus putar balik mencari altenatif yang lumayan cukup jauh.

Kepada awak media 24Jam.co saat ditemui di lokasi banjir, Kadir salah seorang warga mengungkapkan, mereka pun berinsiatif guna menawarkan jasa sukarelawan mengangkut kendaraan, khususnya kendaraan roda dua (sepeda motor) agar bisa menyebrang dengan upah seikhlasnnya.

“Kita hanya bantu orang melintas dengan upah ala kadarnya 20 ribu premotor, tetapi ada juga warga yang tidak punya uang kami tetap tolong menyebrang, sebab jalan jembatan menghubungkan Jono dan Sidera adalah akses yang paling cepat,” ujar Kadir.

Ditambahkanya Desa Sidera akan sunyi jika jembatan darurat itu yang merupakan jerih payah dan kerja keras para warga diperoleh dari sisa kayu rumah tangga dijadikan jembatan dengan harapan aspirasi masyarakat kepada pemerintah agar mengupayakan anggaran membangun fasilitas tersebut.

“Untuk pembangunan akses Jalan Jono Oge dan Sidera hingga waktu yang ditentukan yakni Sabtu 11 Juli 2020 , pemerintah jangan hanya sebatas merepon saja, tetapi harus direalisasikan tanpa janji-janji semata “, beber Kadir.
Melihat dari volume luapan sungai dan kedalaman dan derasnya air sangat beresiko tinggi untuk keselamatan para warga yang ingin melintas. sebab melihat usaha mengangkat kendaraan yang di sebrangkan hanya bermodalkan jembatan kayu yang menjadi penghubung utama transportasi.

Dikesempatan berbeda, adalah Kepala Desa Jono Oge , Mesak Ropiua S.Pd kepada 24jam.co, mengakui mengapresiasi usaha warganya yang bergotong royong membangun jembatan darurat, guna mendorong keinginannya mempertanyakan Anggaran Dana Desa (ADD) dianggap tak mampu membangun Jembatan yang anggaranya menelan biaya miliaran rupiah.

“Saya selaku Kepala Desa Jono Oge menyampaikan keinginan masyarakat saya untuk secepatnya dianggarkan pembuatan Jembatan penyebrangan yang dapat menjamin keselamatan warga yang melintasinya.

Mesak juga berkeinginan Pemerintah baik Pemda Kabupaten, Provinsi, maupun pusat agar memperhatikan Jembatan penghubung yang putus akibat bencana liquifaksi Tahun 2018 silam, sebab anggaran desa tidak mampu untuk mengerjakan itu.

“Pemerintah Desa belum siap membantu untuk memberikan bantuan dana sebab untuk tahun ini banyaknya anggaran dialihkaan ke bantuan masyarakat, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) , penyemprotan disenfektan Covid 19, dan pengobatan warga,” sebutnya.

Sedangkan dana fisik lanjutnya untuk pembuatan fasilitas Jalan Baru penimbunan bahkan ada tujuh duieker yang akan diperbaiki semuanya berhentikan alias dicancel dan dilalihkan BLT untuk masyarakat.

“Saya berharap pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Pusat terkait jembatan terdampak liquifaksi Jono Oge agar direalisasikan segera dan juga memperhatikan progress jembatan sebab fasilitas itu sangat strategis sebagai penghubung Jalan Trans Kabupaten dan Ibu Kota.(Mat)