Oktober 30, 2020

Isi Hati Cudi: Orang Miskin

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jumat ,9 Oktober 2020

Sulteng- Ini kisah benar adanya. Kemarin sore, seperti biasa. Cudi selalu di datangi tamu dari golongan rakyat yang kita sebut kaum miskin kota.

Ini bukan tabiat mereka. Hanya saja ini berlaku khusus bagi Cudi saja. Sebab Cudi memperlakukan mereka bagaikan malaikat. Semua orang tidak mampu dirangkulnya dalam keadaan apapun.

Tapi sore itu benar-benar menyedihkan. Cudi yang tak pernah menyerah membantu mereka harus puasa.

“Saya tidak bisa memberi kalian uang lagi. Negara melarang saya, memberi uang. Ini bulan Pilkada, kamu orang mau saya tidak jadi gubernur,” tanya Cudi.

Dengan berat hati mereka menjawab,

“ tidak pak, jangan kasian, kami mau komiu jadi gubernur,” pungkasnya. Lalu pelan-pelan mereka balik kanan.

Saya menatap wajah Cudi. Sepertinya ini benar-benar hari-hari yang berat. Matanya berkaca-kaca karena harus puasa membantu orang-orang yang dianggapnya malaikat itu.

Itulah Cudi, perasaannya campur aduk. Sebab ia merasa bahwa nasib mereka dititipkan padanya. Kadung suatu ketika dalam sebuah perjalanan ia bertutur. Mengapa kita harus menyayangi orang miskin dan membantu mereka yang meminta sedekah.

Ada hal yang telah mereka korbankan, yaitu harga diri. Kamu bisa bayangkan kata dia, demi untuk membeli beras ia rela menanggung malu meminta.

“Jangan menghardik mereka, sayangi. Dan yang paling penting, bagaimana kalau mereka malaikat?”ujarnya.

Itulah Cudi, dia sangat memahami arti tanggung jawab. Ketaatan Cudi pada hukum begitu kuat. Ia menghargai proses Pilkada yang melarang memberi uang pada pemilih.

“Niat saya bersedekah, tapi kalau ada yang foto bisa jadi fitnah. Dari pada jadi fitnah, lebih baik kamu orang sabar dulu eh, tiga bulan ini saya belum bisa ba bantu kamu orang eh, sabar,” pungkasnya.

Kisah pelik dan sulit seperti ini berulang kali ia rasakan. Sebagaimana ketika bencana melanda Kota Palu. Ia mendapati ribuan warga dalam keadaan lapar, gelap dan tidak ada air.

Ia berani mendatangi sebuah pemilik toko penjual genset. Di sana ia titipkan kartu kredit karena tidak punya uang lagi.

“Tolong pak Aji, kasi saya dua mesin genset. Kasian pengungsi di Vatulemo tidak mandi tidak makan. Saya belum ada uang, saya titip kartu kredit ini,” pinta Cudi.

Tetapi karena orang se Kota Palu mengenal Cudi sebagai penderma dan jujur. Pemilik toko pun rela memberi pinjaman walau tanpa agunan.

Dalam keadaan beginilah, sunggub ironi kalau masih ada juga yang meragukan komitmen kerakyatan seorang Cudi. Hanya Cudi yang berani bikin Peraturan Daerah Program Padat Karya.

Untuk apa? Agar negara memberi upah dan pekerjaan pada orang miskin. Andai saja hati Cudi tembus pandang, maka akan kita lihat isinya penuh jeritan harap orang miskin dan tidak berdaya.

Oleh karena itu, jika hasil survei hari ini menempatkan Cudi di atas 50 persen. Yakinlah, sebagian karena itu doa orang-orang miskin.

Penulis:Andika