Oktober 30, 2020

Pesan Cudy: Kita Harus Bangga Jadi Orang Sulteng

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jumat ,9 Oktober 2019

Sulteng-Identitas kita dibangun dari seni dan olah raga. Para founding Fathers Sulteng melakukan semua pra syarat untuk membangun narasi besar tentang Sulteng.

“Kita harus bangga dengan semua itu,” kata Cudi.

Dahulu kita merupakan sebuah negeri kita yang terpisah oleh banyak swapraja. Pun juga daerah residen peninggalan Belanda. Tetapi kita mampu membangun sebuah imajinasi kolektif bernama Sulawesi Tengah.

Walau jalannya terjal, berliku dan banyak tantangan. Kini Sulteng tumbuh dengan keragaman sebagai kekuatannya. Tapi sayang, ketika identitas itu telah kita raih, sekian ribu harapan masih terbenam sunyi dalam barisan kemiskinan dan pengangguran.

“Padahal kita kaya, strategis dan banyak aspek membuat kita lebih unggul,” ujar Cudi.

Tapi memang salah satu tantangannya, kata Kak Cudi, mengelola Sulteng ini harus dalam perspektif historis Sulteng sebagai sebuah provinsi, bukan pada ranah chauvinisme yang feodalistik.

“Kita tidak akan menemukan jalan masa depan membahagiakan bagi Sulteng jika kita tidak berada dalam alam pikir Sulteng sebagai sebuah provinsi,” jelasnya.

Bagi Cudi, Sulteng sebagai sebuah provinsi yang membentang diantara timur dan barat, utara dan selatan, harus ada keadilan pembangunan.

“Positioning kita harus bisa menjungkirbalikkan logika imperior yang menghambat kemajuan. Kita harus adil,”pesannya.

Kata dia, semua rakyat harus tahu, bahwa kita adalah daerah yang subur dan kekayaan bumi yang melimpah. Kita perlu tata kelola dan manajemen yang bagus tetapi harus mendapatkan dukungan masyarakat.

“Kalau Sahrir bilang, hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah kita menangkan. Saya bilang, kesejahteraan yang tidak diperjuangkan tidak akan pernah kita dapatkan,”ujarnya.

Bagi Cudi, belum terlambat untuk menata kembali masa depan Sulteng yang lebih maju dan sejahtera. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai itu.

“Saya sudah berkeliling meminta restu dari masyarakat. Saya telah melihat dengan jelas ada harapan, optimisme serta obsesi yang sama,” pungkasnya.

Cudiisme

Nilai yang dianut Cudi berbeda dengan pemimpin lain. Ia sungguh memiliki sebuah realitas yang dapat dibayangkan tentang Sulawesi Tengah. Tekadnya itu, setulus benang yang lurus dan niatnya seputih tulang susu.

“Saya berbeda dengan orang lain. Saya bukan pemimpin feodal, saya demokratis, moderen dan dinamis. Jadi tolong jangan perlakukan saya bak raja diraja,” pesannya semalam pada rombongan.

Ia sekali lagi menegaskan siapa dirinya. Bahwa, ia bukan seorang penikmat kekuasaan, melainkan pemimpin yang berjuang untuk sebuah realitas yang dibayangkan.

“Kita harus bangga sebagai orang Sulteng, barulah kita bisa menemukan pengabdian macam apa yang harus kita lakukan,” katanya.

Ia menyadari posisinya sekarang bukan sebuah panggilan biasa. Ada sebuah nilai yang hendak ingin diperjuangkan, apapun jalannya.

“Tugas saya ini berat. Tetapi ini tugas suci, saya bangga menjalani ini. Semoga Tuhan mendengar doa-doa orang miskin, bahwa saya maju sebagai calon gubernur terutama untuk menghapus air mata mereka,” ujarnya.

Di sinilah letak pembeda jelas dari sosok Cudi. Ia tegas untuk sebuah obsesi yang bersifat ideologis. Itulah komitmen paling mahal dari seorang pemimpin.

Jadi, hanya dua hal: Bangga jadi orang Sulteng; Bangga karena ikut berjuang bersama Cudi!.

Penulis:Andika