Oktober 22, 2020

Cudi Adalah Kita

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Minggu,11 Oktober 2020

Sulteng- Ini pesta rakyat. Bukan pesta biasa. Entah bagaimana caranya menekan animo warga. Tabur rebana, tarian adat penyambutan, yel-yel yang menggema adalah ekspresinya.

Penyelenggara pemilu menekan peserta kampanye. Demi keselamatan bersama, standar Covid-19 harus dipatuhi. Untuk tatap muka dialogis, hanya boleh 50 orang dan kampanye umum paling banter 100 orang. Tentu dengan standar yang ketat. Harus ada fasilitas cuci tangan, masker, dan jaga jarak.

Ya, tapi ini judulnya pesta rakyat. Kepesertaan bukan tantangan. Walau sedikit jumlah, rebana harus tetap bertalu-talu, yel-yel harus tetap menggema. Itulah yang terjadi selama pesiar politik Rusdy Mastura dan Ma’mun Amir berjalan.

Luapan kegembiraan dari orang yang rindu padanya tak surut. Pesona Cudi dan Ma’mun Amir bagaikan gula, kalau tak ingin disebut magnet. Semua partikel terikat komitmen; semua ingin mendekat; semua ingin merasakan atmosfir.

Atmosfir, antara, rindu dan harapan kemenangan, saling mengikat berkelindan.

Ekspresi itu tergambar jelas setiap Cudi dan Ma’mun bertandang kampanye. Warga melakukan apa saja, ada yang berperan menyajikan sarapan pagi, makan siang, dan juga makan malam.

Komitmen ini memang khas, sebab ada sebuah semangat yang tumbuh. Entah alasan apa? Semua orang sekarang sibuk dengan kegiatan kampanye dan sosialisasi. Semua ingin mengambil peran, sekecil apapun, harus terlibat.

Paling banter angkat dua jari di jalan-jalan.

“Seumur saya hidup, baru kali ini saya lihat Pilkada dimana semua orang punya perasaan bahagia bergerak menangkan Cudi-Ma’mun,” ujar Melvan, Plt Ketua Pemuda Rumpun Daa.

Beda lagi dengan Endang Herdianti, Srikandi Desa Beka, anggota DPRD Sigi. Sore tadi, ia memulai pidato dengan meneteskan air mata. Endang terharu karena menangkan kesan yang kuat dari niat baik Cudi-Ma’mun.

Apalagi kalau bukan soal nasib para korban bencana kata Endang. Endang seperti melihat isi hati Cudi. Bahwa melihat nasib kesengsaraan para pengungsi yang hak-haknya belum jelas hingga sekarang.

Endang bilang,” Memenangkan Cudi bukan siapa, tetapi untuk perbaikan nasib kita semua,” ujarnya.

Kata Endang, Sulteng butuh pemimpin yang memahami situasi kebathinan rakyat; yang paham penderitaan rakyat, dan pilihan itu hanya pada Cudi.

“Cudi adalah kita,” kata Endang.

Atmosfir Gerakan Semesta Cudi-Ma’mun kini sedang mengalami pasang naik. Maka sebuah kerugian, jika kita tak libatkan diri dalam momen besar, bahagia dan bersejarah ini.

Penulis,Andika.