Oktober 22, 2020

Hujan di Lembah Palu:Air Mata Cudi Untuk Pengungsi

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selasa,13 Oktober 2020

Sulteng – Ini memang anomali cuaca. Sudah setahun ini lembah Palu diguyur hujan. Hanya selang-selang, paling lama seminggu. Lalu hujan turun lagi. Sebuah berkah alam yang terjadi persis dua tahun bencana gempa tsunami, likuifaksi dan tanah longsor melanda Pasigala.

Sekarang sungai-sungai mati hidup lagi. Ada perayaan tidak terkira. Seperti sebuah pesta pora, sungai-sungai meluap bebas. Ini kecenderungan biasa pada daerah curah hujan tinggi. Tapi karena ini Kota Palu, semua terasa baru.

Pepohonan dan rerumputan sumringah. Mereka hijau berkilau. Tidak ada lagi hamparan Padang kering. Sapi dan kambing tak lagi makan kertas.

Paling tidak, skripsi mahasiswa tidak lagi terancam, seperti tahun lalu.

“Seharusnya sekarang kita tanam pohon besar-besar agar tiga bulan ke depan sudah dapat tumbuh bagus. Ini momen menghijaukan lembah Palu, membentuk hutan kota yang rindang,”ujar Rusdy Mastura.

“Lembah Palu sekarang sudah seperti Bogor, basah terus aspalnya,” pungkas Cudi.

Walau dunia sedang diguncang Covid-19, tanaman petani di lembah Palu tumbuh sumringah. Barangkali ini berkah, lantaran ratusan hektar sawah belum bisa teraliri air. Lantaran irigasi gumbasa belum difungsikan.

“Bukan main kasian, bagaimana kalau tidak musim hujan, makan apa sudah rakyat ini,” ujar Cudi.

Tiga hari sudah, Cudi keliling lembah Palu. Sepanjang perjalanan hujan selalu mengikuti. Dimana ia pidato, setelah itu hujan turun.

Doa-doa kita mungkin didengar Tuhan. Konon doa yang didengar Tuhan dari mereka yang air matanya jatuh di belanga kosong.

Spirit hujan ini memang bisa melahirkan banyak tafsir transendental. Ada yang bilang semacam ekspresi air mata dari ribuan pengungsi yang nasibnya naas.

Padahal, 30 Desember 2020 mendatang, Instruksi Presiden tentang Percepatan Rehab Rekon Sulteng akan berakhir. Perlu dicatat, kerugian yang tercatat BNPB kurang lebih 28 triliun. Sedangkan biaya yang diperlukan untuk memulihkan lebih baik sebesar 38 triliun.

Judul besar rencana induk: Bangun Kembali Lebih Baik dengan Partisipasi Rakyat, kayaknya mulai dilupakan. Hujan telah membekukan ingatan.

Sampai detik perjalanan tulisan ini dibuat. Air mata para keluarga penerima santunan masih membekas di jendela runyam hunian sementara. Entah kapan janji menteri sosial itu datang dengan bungkusan cinta.

Tuan Presiden mungkin belum dengar cerita ini. Bahwa Kota Palu sekarang setiap hari hujan. Bisa jadi itu jerit tangis dan air mata orang dalam tanah. Mereka sedih menyaksikan penderitaan sanak saudaranya. Hidup berkalang sulit menanggung beban dari pembiaran yang berlarut-larut.

“Dimana hati dan empedu mereka melihat kami menderita begini, setiap hari kelaparan dalam kamp pengungsian,” ujar Warga Loru, Kabupaten Sigi padi tadi.

Mereka bicara dengan tenaga tersisa.

“Hanya Cudi harapan kami untuk mendapatkan keadilan. Kami tahu usianya tidak lagi muda tapi hanya Cudi yang bisa mengakhiri semua penderitaan ini. Cudi orang jujur dan selalu berlaku adil,”ujar Warga Biromaru.

Hujan dan air mata di lembah Palu memang terpisah. Tapi keduanya membanjiri hati seorang Rusdy Mastura sebagai sebuah tekad pengabdian.

Dengan mata berkaca-kaca; dengan ayunan tangan yang khas. Suaranya bergetar,

“Insya Allah, saya bertekad menghapus air mata saudara-saudaraku semua pengungsi. Ini janji saya, saya tidak sanggup lagi melihat penderitaan saudara-saudara,” ujar Cudi.

Pada 30 Desember 2020 mendatang, hujan ini akan mengawal ucapan selamat tinggal Inpres No 10 tahun 2018. Tetapi mungkin hujan juga mengajak kita untuk bertanya.

Apa saja program rehab rekon pasca bencana yang sudah selesai?

Penulis,Andika