Oktober 22, 2020

Cudi Gubernur Rakyat!

SHARE :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Jumat,16 Oktober 2020

Sulteng- Apa buktinya? Sekarang, mungkin 150 Kelompok relawan didaftarkan di KPU. Itu bukan sebuah jumlah yang lazim dalam sebuah perhelatan Pilkada Gubernur.

Dari Aliansi mama-mama Kece sampai Bapak-Bapak Keren ada. Namanya rupa ragam, mengekspresikan cara rakyat jelata berpolitik. Mulai dari persatuan anak dekker hingga aliansi pengacara bikin acara dan Baliho.

Cudi bukan cuma mampu membangun harapan. Ia menggerakkan partisipasi rakyat. Sampai-sampai ia sendiri sibuk memenuhi undangan dan telpon. Hanya Cudi elit politik yang tidak menyerah angkat telpon tiap 5 menit sekali.

Cudi adalah Lula Da Silvanya Sulteng. Ia juga seorang Gandhi yang mampu menghasilkan long march kebudayaan rakyat.

Entah apa yang ada dalam benak rakyat. Kemarin sebuah mobil pick up di branding,”Pare-Pare For Cudi. Ada juga “Sangmaneta” sebuah relawan komunitas orang Toraja di perantauan.

Tapi memang, siapa yang mampu mengelak dari ketulusan hati Cudi? Jangan pernah berfikir bahwa Cudi akan menyerah mengikuti aspirasi. Ia seorang petarung yang mempertaruhkan segalanya untuk kebahagiaan semua orang.

Bukan hanya pada Pilkada sekarang, kaos tentang dirinya diminati. Tetapi sejak Pilkada langsung diselenggarakan. Mulai dari tukang parkir sampai pemanjat kelapa menggunakannya; mulai dari karyawan pabrik sampai petani sawah bangga mendapatkannya.

Ada asa, juga mimpi yang terbenam lama. Cudi mampu mencungkilnya jadi sebuah realitas yang dibayangkan. Pesimisme yang hampir saja membuat kita mati langkah ia “setrum” sebagai Alarm bagi status quo.

Cudi adalah mimpi buruk bagi kaum feodal aristokratik yang mendambahkan dinasti dan pewarisan kekuasaan. Melalui slogan, Kerja Cepat dan Tuntas ia telah mensatir persepsi jubah feodal dengan sikapnya lepas kancing baju.

Mengapa animo masyarakat Sulawesi Tengah begitu tinggi. Salah satunya karena ia dikenal selalu mendahulukan kepentingan orang banyak, ketimbang dirinya sendiri.

Dan yang paling penting, ia selalu meninggalkan legacy yang berharga untuk generasi berikutnya.

Sehingga ia selalu populer dan awet dengan panggilan “Kak Cudi”. Dua jari kemenangan yang sekarang kita simbolisasi sebagai sebuah Victory”.

Cudi telah sampai pada sebuah long march politik. Sekarang tidak satu pun orang meragukan, bahwa ia akan jadi pemenang. Itulah alasan paling masuk akal untuk kita terima, sehingga tidak mungkin beralih hati.

 

Penulis:andika