Kamis, 5 Februari 2026

Merah Putih di Bekas Sarang Mujahidin Indonesia Timur

Warga Tamanjeka membentangkan Merah Putih raksasa di HUT ke-80 RI. Foto: Polda Sulteng

Poso, Warga Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, beramai-ramai membentangkan berukuran jumbo pada Ahad, 17 Agustus 2025. Momen ini turut melibatkan mantan narapidana yang pernah tergabung dalam Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok yang dicap sebagai teroris, untuk merayakan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Bendera raksasa berukuran 30 x 20 meter itu digelar di lapangan terbuka Dusun Tamanjeka, menarik perhatian seluruh warga. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa tampak berbaris rapi sambil menahan napas saat bendera dinaikkan. Suasana hening sejenak, sebelum kemudian terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan ketika kain merah-putih itu berkibar sempurna di udara.

“Ini bukan sekadar pengibaran bendera, tapi simbol bahwa Tamanjeka kini terbuka, damai, dan siap bersatu dalam bingkai NKRI,” kata salah satu warga Tamanjeka.

Kilasan sejarah Tamanjeka tak bisa dilepaskan dari MIT. Beberapa tahun silam, dusun ini menjadi salah satu basis kelompok bersenjata tersebut, yang kemudian menebar ketakutan di wilayah Poso.

Baca Juga:  Ayah dan Anak di Palu Ditangkap Polisi, Kedapatan Simpan 32 Paket Sabu

Pemerintah dan aparat kerap melakukan operasi untuk membongkar jaringan itu, hingga akhirnya wilayah ini perlahan kembali kondusif. Kini, bekas sarang ekstremisme itu berubah menjadi tempat yang hidup dengan kegiatan sosial dan kebangsaan.

“Dulu kami hidup dalam ketakutan, sekarang bisa berdiri bersama dan merayakan kemerdekaan dengan bangga,” ujar seorang warga Tamanjeka yang ikut mengibarkan bendera.

Momen haru itu berlangsung usai upacara peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Pol Agus Nugroho, hadir bersama jajaran Kabupaten Poso, para tokoh, serta sejumlah tamu undangan. Ia tampak berdiri bersama warga menyaksikan bendera raksasa dikibarkan.

“Ini adalah momentum bersejarah. Melihat masyarakat bersama eks napiter bergandengan tangan membentangkan bendera merah putih adalah simbol rekonsiliasi dan persaudaraan dalam pemeliharaan situasi kamtibmas di Poso,” kata Irjen Agus.

Ia menegaskan bahwa kebersamaan dalam mengibarkan merah putih adalah bukti nyata perubahan positif serta tekad bersama menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Menurutnya, peringatan HUT RI di Tamanjeka adalah contoh bagaimana sebuah upacara bisa menjadi ruang mempererat persaudaraan.

Baca Juga:  Kebakaran di Palu Hanguskan Rumah dan Asrama Parigi Moutong

Selain pembentangan bendera raksasa, warga dan mantan napiter juga terlibat dalam sejumlah kegiatan kebangsaan lainnya.

“Kegiatan ini bukan hanya ajang seremonial, melainkan upaya merawat nilai persatuan sekaligus mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga keutuhan bangsa,” kata Kapolda.

AMB