Pemalang, MediaPalu.com – Di tengah panas dan asap, srikandi damkar Pemalang Jenni Liliana berdiri tegak. Ia berlari ke arah api, bukan menjauh. Seragam biru tuanya sering basah oleh keringat dan air pemadam. Sejak bergabung dengan Dinas Pemadam Kebakaran Pemalang, pos Belik, Jenni tak pernah gentar menghadapi bahaya.
“Belum setahun saya di damkar. Masuk lewat CPNS,” katanya, kepada MediaPalu.com, Rabu, 22 Oktober.
Jenni, 19 tahun, anak kedua dari Harry Mukti Wibowo dan Admiati, sebelumnya sempat kuliah di Pendidikan Matematika UM Purwokerto. Ia berhenti di semester empat setelah diterima di formasi CPNS 2024. Keputusan itu mengubah jalan hidupnya.
Di rumah, Jenni tetap gadis sederhana. Ia membantu ibunya memasak dan mengepel lantai. Tapi begitu mengenakan seragam damkar, langkahnya berubah tegas. Di pundaknya tergantung tanggung jawab besar, melawan api dan menyelamatkan nyawa.
“Bangga bisa bantu orang. Damkar memberi ruang untuk itu,” ujarnya.
Motto hidupnya sederhana, “Khoirunnas anfauhum linnas” sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi sesama.
Jenni mengakui, tugasnya tak selalu mulus. Bahaya selalu mengintai setiap operasi.
“Risiko tinggi, tapi semua terbayar saat api padam,” katanya. Ia menyimpan dukanya sebagai bagian dari tantangan.

Setahun bertugas membuatnya makin yakin, damkar adalah pilihannya.
“Bisa ketemu orang baru setiap hari, rasanya luar biasa,” tutupnya.
Jenni Liliana bukan sekadar petugas muda. Ia wajah baru dari keberanian. Di antara sirene dan kobaran api, srikandi damkar Pemalang ini menunjukkan bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin.
Sebagai anggota termuda di tim, Jenni sering mendapat bimbingan dari seniornya. Ia belajar membaca arah angin, mengenali sumber api, hingga mengatur tekanan air di selang. Semua dilakukan dengan cepat dan tenang di tengah panas dan asap.
“Awalnya saya takut salah langkah,” ucapnya.
“Tapi senior selalu bilang, jangan panik, api itu bisa dikalahkan kalau kita tenang.” Kalimat itu menempel kuat di pikirannya setiap kali alarm darurat berbunyi.
Kini, setiap tugas pemadaman menjadi ruang belajar baru. Jenni ingin kelak menjadi instruktur pelatihan bagi anggota muda lainnya.
“Biar makin banyak perempuan berani bergabung di Damkar,” katanya sambil tersenyum manis.
RAGIL





