Selasa, 17 Maret 2026
Health  

Berat Badan Naik dan Sering Ngantuk Habis Makan? Ini Tanda Resistensi Insulin yang Sering Tak Disadari

Ilustrasi pemeriksaan lingkar perut dan tanda resistensi insulin seperti kulit leher menggelap serta kadar gula darah tinggi.
Ilustrasi tanda resistensi insulin seperti lingkar perut meningkat, perubahan warna kulit di leher, dan kelelahan setelah makan. Foto: Ilustrasi/MP
Advertisement

– Berat badan bertambah tanpa sebab yang jelas. Rasa kantuk datang berat setiap selesai makan siang. Di cermin, muncul lipatan gelap di leher yang sulit hilang. Banyak orang menganggap keluhan ini biasa saja, padahal bisa menjadi tanda awal .

Di balik gejala yang tampak ringan itu, sering tersembunyi gangguan metabolik yang berkembang perlahan dan kerap luput dari perhatian.

Dokter dan praktisi Longevity Medicine, Indra Gunawan, menyebut resistensi insulin sebagai akar berbagai penyakit kronis modern.

“Kalau ditanya satu biomarker paling penting untuk dikontrol, jawabannya bukan kolesterol atau asam urat, tapi sensitivitas insulin,” ujarnya dalam penjelasan yang dikutip dari YouTube resminya, Rabu 25 Februari 2026.

Apa Itu Resistensi Insulin?

Kondisi ini terjadi ketika sel tubuh tidak lagi merespons hormon insulin secara optimal. Akibatnya, tubuh memproduksi insulin dalam jumlah lebih banyak untuk membantu masuk ke dalam sel.

Jika kondisi ini berlangsung lama, kadar gula darah dan insulin yang tinggi dapat merusak pembuluh darah, ginjal, saraf, hingga meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Baca Juga:  Polda Sulteng Raih Dua Perunggu di Kapolri Cup 2025

Dalam penjelasannya, dr. Indra mengibaratkan sel tubuh seperti koper dengan kapasitas terbatas. Jika sudah penuh namun terus dipaksa diisi, akhirnya gula menumpuk di luar sel. Penumpukan inilah yang memicu kerusakan organ secara perlahan.

Resistensi Insulin Tidak Selalu Terlihat dari Luar

Banyak orang mengira gangguan metabolik hanya terjadi pada mereka yang obesitas. Faktanya, kondisi ini juga dapat terjadi pada orang yang terlihat kurus.

Fenomena ini dikenal sebagai thin outside, fat inside (TOFI), yaitu kondisi ketika lemak menumpuk di organ dalam meski tubuh tampak ramping.

Karena itu, gejala resistensi insulin sering kali tidak dikenali sejak dini.

Tanda Resistensi Insulin yang Sering Diabaikan

Tubuh sebenarnya memberi sinyal ketika terjadi gangguan metabolik.

Advertisement

Beberapa tanda yang bisa dikenali antara lain perubahan warna kulit di leher atau ketiak yang tampak lebih gelap dan menebal (acanthosis nigricans), munculnya skin tags atau daging tumbuh kecil, serta lingkar perut yang meningkat.

Selain itu, keinginan kuat mengonsumsi makanan manis meski sudah kenyang, mudah mengantuk setelah makan, hingga sulit berkonsentrasi atau brain fog juga dapat menjadi gejala resistensi insulin.

Baca Juga:  Kapolresta Palu Apresiasi Sinergi Pengamanan Natal dan Tahun Baru 2025

Jika beberapa tanda ini muncul bersamaan, ada baiknya mulai melakukan evaluasi gaya hidup.

Cara Mengatasi Resistensi Insulin

Kabar baiknya, resistensi insulin bisa dibalikkan selama pankreas belum mengalami kerusakan berat.

Langkah pertama adalah mengatur frekuensi makan dan menghindari kebiasaan ngemil berlebihan. Setiap kali makan, kadar insulin meningkat. Jika makan dilakukan terlalu sering, tubuh tidak memiliki waktu untuk menurunkan insulin ke kadar basal.

Langkah kedua adalah berjalan kaki setelah makan. Aktivitas ringan selama 10–15 menit membantu otot menyerap gula darah lebih efektif dan membantu memperbaiki resistensi insulin.

Sebagai pendukung, konsumsi cuka apel yang telah diencerkan dalam air sebelum makan karbohidrat dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah. Namun, fondasi utama tetap pada pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur.

Kunci Ada pada Perubahan Sehari-hari

Resistensi insulin berkembang perlahan dan sering tidak disadari hingga muncul komplikasi. Karena itu, deteksi dini dan perubahan kebiasaan menjadi langkah penting.

“Selama pankreas belum rusak total, kondisi ini bisa dibalikkan. Kuncinya ada di keputusan sehari-hari,” kata dr. Indra.

Baca Juga:  Perjanjian Dagang Indonesia AS Disepakati, 1.819 Produk Nasional Bebas Tarif 0 Persen

Memperbaiki pola makan, mengurangi asupan gula, serta meningkatkan aktivitas fisik bukan hanya mencegah diabetes, tetapi juga menjaga metabolik dalam jangka panjang.

NURDIN

Advertisement