Jakarta, MediaPalu – Perjanjian dagang Indonesia AS akhirnya resmi diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Kesepakatan ini membuka akses tarif 0 persen bagi 1.819 produk nasional ke pasar Amerika Serikat, langkah yang disebut sebagai tonggak baru hubungan ekonomi kedua negara.
Kesepakatan tersebut merupakan hasil negosiasi panjang yang berlangsung dalam tujuh putaran perundingan dan lebih dari sembilan pertemuan bilateral. Pemerintah menyebut sekitar 90 persen usulan Indonesia dalam perundingan diterima pihak Amerika Serikat.
Dengan skema tarif nol persen ini, produk Indonesia berpeluang lebih kompetitif di pasar AS, terutama untuk komoditas unggulan seperti minyak sawit, kopi, kakao, karet, tekstil, furnitur, hingga komponen elektronik.
Dorongan Besar untuk Ekspor Indonesia ke Amerika
Dalam kerangka perjanjian dagang Indonesia AS ini, pemerintah memproyeksikan tambahan ekspor nasional bisa mencapai USD 10 hingga 15 miliar dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Sektor tekstil dan garmen diperkirakan menjadi salah satu yang paling terdampak positif. Saat ini ekspor tekstil Indonesia ke Amerika Serikat berada di kisaran USD 4 miliar per tahun. Dengan fasilitas tarif 0 persen, targetnya meningkat hingga USD 40 miliar dalam satu dekade.
Industri tekstil sendiri menyerap sekitar empat juta tenaga kerja. Peningkatan ekspor dinilai dapat mendorong ekspansi kapasitas produksi sekaligus membuka ratusan ribu lapangan kerja baru di sektor manufaktur.
Secara makro, tambahan ekspor dari perjanjian dagang Indonesia AS diperkirakan memberi kontribusi 0,3 hingga 0,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Komitmen Investasi USD 38,4 Miliar
Selain akses perdagangan, kesepakatan ini juga mencakup 11 nota kesepahaman dengan nilai komitmen mencapai USD 38,4 miliar.
Di antaranya meliputi rencana impor gas dan minyak mentah sekitar USD 15 miliar per tahun, tambahan investasi jangka panjang USD 20 miliar dalam 20 tahun, serta pembelian 50 pesawat Boeing.
Kerja sama ini juga menyentuh sektor strategis seperti semikonduktor dan penguatan rantai pasok teknologi, yang dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan industri global.
Stabilitas Harga Pangan Tetap Dijaga
Sebagai bagian dari kesepakatan timbal balik dalam perjanjian dagang Indonesia AS, Indonesia membuka tarif 0 persen untuk sejumlah komoditas pertanian Amerika seperti kedelai dan gandum.
Pemerintah menilai kebijakan ini penting untuk menjaga stabilitas harga pangan domestik. Indonesia setiap tahun mengimpor sekitar 2,5–3 juta ton kedelai dan 10–11 juta ton gandum, yang menjadi bahan baku utama tahu, tempe, dan mi instan.
Dengan biaya impor yang lebih efisien, risiko lonjakan harga di tingkat konsumen diharapkan dapat ditekan.
Forum Dialog Permanen
Untuk mengantisipasi potensi persoalan perdagangan di masa depan, kedua negara sepakat membentuk Council of Trade and Investment. Forum ini akan menjadi mekanisme dialog tetap guna menjaga keseimbangan neraca perdagangan serta menyelesaikan sengketa secara bilateral.
Pemerintah menegaskan perjanjian dagang Indonesia AS ini murni kerja sama ekonomi dan tidak memuat klausul pertahanan maupun isu geopolitik lainnya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya praktik proteksionisme di berbagai kawasan, kesepakatan ini menjadi langkah strategis Indonesia memperluas akses pasar sekaligus menjaga kepentingan domestik.
Apakah perjanjian ini akan benar-benar mendorong lonjakan ekspor dan investasi dalam jangka panjang, waktu dan realisasi angka perdagangan akan menjadi penentunya.
IWAN





