Kamis, 5 Februari 2026
Daerah  

Ramai di Media Sosial, Warganet Desak Keterbukaan Seleksi Perangkat Desa di Bojonegoro

Gerbang Bojonegoro bertuliskan “Produktif dan Energik” menjadi simbol daerah yang kini disorot publik atas isu transparansi rekrutmen perangkat desa.
Gerbang masuk Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dengan slogan Produktif dan Energik. Daerah ini kembali menjadi sorotan publik setelah pelaksanaan tes perangkat desa di Kecamatan Kasiman menuai kritik soal transparansi. Foto: Istimewa

Bojonegoro, MediaPalu.com – Suasana media sosial di Bojonegoro mendadak riuh setelah tes rekrutmen perangkat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur digelar, Rabu, 8 Oktober 2025. Unggahan di akun TikTok @DP_Official milik salah satu media lokal memicu ratusan komentar warganet yang mempertanyakan transparansi proses rekrutmen.

Tes yang berlangsung di Pondok Pesantren Hibatullah, Desa Sambeng, Kecamatan Kasiman, itu diikuti oleh peserta dari enam desa. Yaitu Ngaglik, Batokan, Sidomukti, Besah, Sekaran, dan Kasiman.

Namun, setelah hasil seleksi diumumkan, banyak warga merasa prosesnya tidak sepenuhnya terbuka.

Udah jadi rahasia umum, kalau urusan perangkat pasti sudah ada jagonya,” tulis akun @RT.01 RW.01 Batokan.

Komentar lain datang dari akun @Herri Wibowo menimpali dengan nada sinis, “Semoga ke depan lebih transparan biar masyarakat percaya.

Sorotan publik kian meluas karena hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak panitia, camat, maupun kepala desa setempat. Upaya sejumlah untuk mengkonfirmasi daftar peserta dan hasil seleksi pun tak membuahkan hasil.

Baca Juga:  Masyarakat Wajib Tahu: Ini Batas Tugas dan Wewenang Kepala Daerah

Padahal, menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), badan publik wajib membuka informasi yang menjadi hak masyarakat. Pasal 3 undang-undang itu menyebutkan bahwa setiap orang berhak memperoleh informasi publik, sementara Pasal 4 ayat (2) menegaskan kewajiban badan publik untuk menyediakan informasi tersebut, kecuali yang dikecualikan secara .

Sehari sebelum tes digelar, Ikatan Wartawan Online (IWOI) DPD Bojonegoro sebenarnya telah menggelar audiensi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kasiman dan panitia dari enam desa pelaksana.

Pertemuan yang berlangsung di pendopo kecamatan itu sempat diharapkan menjadi forum klarifikasi. Namun, tidak ada kesepakatan yang dicapai.

Pihak IWOI menilai proses rekrutmen masih menyisakan ruang gelap transparansi. Salah satunya karena tidak ada pihak ketiga pembanding dalam pelaksanaan tes, yang seharusnya bisa menjadi pengendali independen terhadap hasil seleksi.

Selain mengonfirmasi pihak kecamatan dan panitia, MediaPalu juga mencoba menghubungi pelaksana tes melalui bagian administrasi dan umum. Namun, pihak administrasi hanya menjawab singkat bahwa klarifikasi akan diteruskan kepada pejabat terkait. Hingga berita ini ditulis, tanggapan resmi belum diterima.

Ketua DPD IWOI Bojonegoro, Gunaidik, menilai transparansi adalah prasyarat penting dalam setiap proses seleksi jabatan publik, termasuk perangkat desa.

Baca Juga:  Kejati Sulteng Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Korupsi Proyek Jalan di Parigi Moutong

Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kejelasan dari penyelenggara.

“Kami menilai pelaksanaan tes perangkat desa di wilayah Kasiman belum sepenuhnya memenuhi unsur transparansi,” kata Gunaidik kepada MediaPalu, Selasa, 14 Oktober 2025.

“Kami akan mendorong semua pihak membuka data dan tahapan proses secara jujur agar masyarakat tidak kehilangan kepercayaan,” katanya.

IWOI, kata dia, juga akan menyurati pihak terkait secara resmi untuk meminta klarifikasi lebih lanjut dan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan tes di Kasiman.

Publik kini menanti sikap resmi dari pihak kecamatan, panitia, maupun pelaksana tes rekrutmen perangkat desa tersebut.

Sementara itu, unggahan warganet terus beredar di berbagai platform, menandakan meningkatnya sensitivitas publik terhadap isu transparansi dan akuntabilitas di tingkat desa.

“Desa adalah wajah pertama dari negara di mata rakyat,” kata seorang warga Kasiman yang enggan disebut namanya.

“Kalau di tingkat bawah saja tak transparan, bagaimana masyarakat bisa percaya pada yang di atas?”

HERIYANTO