MediaPalu – Suasana di gerai Start Kitchen di Jalan Basuki Rahmat, Kota Palu, tak seperti Minggu biasanya. Sore itu, 6 Juli 2025 atau bertepatan dengan 10 Muharram 1447 Hijriah, para pengunjung—kebanyakan ibu-ibu berdatangan silih berganti. Di tangan mereka tergenggam belanga baru, cerek air, tempat nasi, hingga saringan teh.
“Kalau bukan 10 Muharram, rasanya belum afdal beli alat dapur,” kata Isma, 40 tahun, warga Palu Selatan, sambil mengikatkan tali plastik pada pegangan panci barunya. Ia datang bersama suaminya, menyusuri rak demi rak dengan mata yang cermat.
Fenomena ini bukan hal baru. Setiap tahun, 10 Muharram menjadi semacam momen kolektif bagi sebagian warga untuk memperbarui peralatan masak. Tidak ada ajakan resmi, tidak pula kampanye komersial. Namun, tradisi itu tumbuh di tengah masyarakat, diwariskan dari mulut ke mulut dan dapur ke dapur.

“Sudah dari zaman orang tua dulu, kalau bisa beli barang dapur di hari ini, insya Allah rumah tangga lebih berkah,” ujar Nurlela, 50 tahun, yang datang dari Kecamatan Tatanga. Baginya, mengganti alat masak bukan soal gaya hidup, melainkan bagian dari niat membersihkan dan memulai sesuatu yang baru di tahun hijriah.
Karyawan Start Kitchen, Sidik, mengatakan bahwa sejak pagi jumlah pengunjung terus meningkat.
“Rata-rata mereka beli alat dapur. Hari ini memang selalu ramai tiap tahunnya,” ujarnya.
Tak hanya di Kota Palu. Di berbagai tempat lain, 10 Muharram dirayakan dalam kesederhanaan dan keyakinan. Bagi sebagian orang, hari itu adalah waktu untuk berbagi bubur Asyura. Bagi sebagian lainnya, momen untuk memperbarui isi dapur dengan harapan, rezeki keluarga juga ikut diperbarui.





