Kamis, 5 Februari 2026

Daftar Korban Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali

KMP Tunu Pratama Jaya
Foto : Ist

BANYUWANGI, MEDIAPALU — Daftar tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat pada Rabu, 2 Juli 2025, mencakup 29 orang selamat, 5 , dan 32 lainnya masih dalam pencarian. Kapal tersebut berlayar dari Pelabuhan Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan mengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan.

KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami kebocoran di ruang mesin dan kehilangan daya sebelum akhirnya terbalik sekitar pukul 23:35 WIB. gabungan memulai pencarian pada pukul 00:18 WIB dengan menghadapi ombak setinggi 2–2,5 meter dan arus kuat.

Menurut Kepala Basarnas Mohammad Syafii, operasi pencarian terus dilakukan meskipun terkendala cuaca.

“Pencarian masih berlangsung, ombak 2–2,5 meter, angin dan arus kuat,” kata Syafii pada Kamis.

Data dari Basarnas dan kepolisian menunjukkan bahwa 29 korban selamat terdiri dari 25 penumpang dan 4 kru kapal. Sebagian besar korban ditemukan di pesisir Pantai Pebuahan, Jembrana, dan segera diamankan ke rumah warga.

Berikut daftar 29 korban selamat:
Saroji, Saiful Munir, Mansun, Romi Alfa Hidayat, Sandi, Supardi, Abu Khoiri, Farid, Erick Imbawani, Nurdin Yuswanto, Richo Krafsanjani, Ahmad Suyipno, Bahrul, Eka Toniansyah, Muhammad Tri Wahyudi, M. Farid Wajdi, Samsul Hidayat, Anshori, Wajihi, Muhammad Kholil, Bejo Santoso, Deni Hermanto, Ahmad Lukan, Febriani, Ibnul Vawait, Imron, Ahmad Rokhan, Sinyo, dan Ely.

Sementara itu, lima korban meninggal dunia telah teridentifikasi. Mereka adalah Anang Suryono (59), Eko Sastriyo (51), Elok Rumantini (34), Cahyani (45), dan Fitri April L.

Koordinator Pos SAR Banyuwangi, Wahyu Setiabudi, menjelaskan bahwa kapal tenggelam lima menit setelah panggilan darurat dikirim pada pukul 23:20 WIB. “Kapal terlihat tenggelam lima menit setelah panggilan darurat,” kata Wahyu pada Kamis.

Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pemerintah akan menyelidiki penyebab kecelakaan serta memeriksa keakuratan data manifes. Ketidaksesuaian jumlah penumpang muncul karena beberapa korban tidak tercatat secara resmi.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan melakukan investigasi penuh atas insiden ini. Sebagai perbandingan, kecelakaan serupa pernah terjadi di Selat Bali saat KMP Yunicee tenggelam pada 2021. Menurut KNKT, kelebihan muatan dan peralatan keselamatan menjadi penyebab utama dalam kecelakaan tersebut.

(LIA)