Jakarta, MediaPalu – Pangsa pasar BBM non-subsidi di SPBU swasta terus menunjukkan tren kenaikan. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada 2024 pangsa pasarnya tumbuh 11 persen dan hingga Juli 2025 sudah mencapai sekitar 15 persen.
Kondisi ini menjadi salah satu dasar pemerintah memberi ruang lebih bagi SPBU swasta dalam skema impor BBM.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan, Pertamina Patra Niaga masih memiliki sisa kuota impor sebesar 34 persen atau sekitar 7,52 juta kiloliter. Kuota tersebut cukup untuk mengalokasikan tambahan 571.748 kiloliter bagi SPBU swasta hingga Desember 2025.
“Pemerintah akan terus memfasilitasi kerja sama business to business (B2B) antara Pertamina dan SPBU swasta, sehingga kebutuhan BBM non-subsidi tetap terjamin,” kata Bahlil, Jumat 19 September 2025.
Dalam rapat bersama Pertamina dan badan usaha swasta, disepakati pula pola impor berbasis base fuel untuk efisiensi dan kualitas produk. Kolaborasi ini dinilai sebagai solusi menjaga ketersediaan energi, sekaligus mengatur porsi impor agar sejalan dengan kondisi perdagangan nasional.
Pemerintah menekankan bahwa aturan pengaturan impor BBM tetap terbuka untuk disesuaikan. Jika diperlukan, porsinya bisa ditingkatkan atau dikurangi dengan mempertimbangkan kebutuhan konsumsi, distribusi, serta kondisi fiskal negara.
IWAN





