Jumat, 13 Maret 2026

Tambang Emas Kayuboko Telan Korban, ESDM Sulteng Turun Tangan

Aktivitas pendulang tradisional di Tambang Emas Kayuboko Parigi Moutong
Sejumlah pendulang tradisional beraktivitas di kawasan Tambang Emas Kayuboko, Parigi Moutong. Foto: Istimewa
Advertisement

Parigi Moutong, MediaPalu – Insiden longsor di kawasan , Kecamatan Parigi Barat, , Sulawesi Tengah, menelan korban jiwa. Seorang pendulang tradisional dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun material longsor di area Blok III Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Kayuboko.

Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis sore, 12 Februari 2026, sekitar pukul 15.00 WITA. Korban diketahui bernama Mama Ida, berusia sekitar 50 tahun, Desa Air Panas.

Menindaklanjuti kejadian itu, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Tengah langsung turun tangan dengan meninjau lokasi kejadian pada Senin, 16 Februari hingga Selasa 17 Februari 2026.

Kepala Bidang Minerba , Sultanisah, menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut.

“Kami turut berduka cita atas kejadian ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima MediaPalu, Jumat 20 Februari 2026.

Berdasarkan data yang diperoleh ESDM Sulteng, korban saat itu sedang berteduh di bawah tebing bekas aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) yang berada di dalam wilayah IPR Kayuboko. Diduga korban tidak menyadari kondisi lereng yang labil sehingga tertimbun material longsoran dan tidak sempat menyelamatkan diri.

Baca Juga:  Oknum Polisi Diduga Terlibat Pengeroyokan di Morowali, Polda Sulteng Tegaskan Proses Hukum

Korban diketahui merupakan pendulang tradisional dan bukan anggota koperasi IPR setempat.

Setelah kejadian, keluarga korban bersama masyarakat dan pihak koperasi melakukan evakuasi menggunakan alat berat excavator. Setelah posisi korban dipastikan, penggalian dilanjutkan secara manual hingga korban berhasil ditemukan.

Advertisement

Dinas ESDM menjelaskan bahwa karakteristik tanah di area WPR Tambang Emas Kayuboko Parigi merupakan emas lepas aluvial dengan material lempung berpasir yang relatif lemah dan rawan longsor.

Lokasi kejadian berada di sisi timur Blok III Kayuboko dengan ketinggian tebing kurang lebih 15 meter. Area tersebut merupakan bekas lokasi pengambilan sampel tambang.

Sebagai tindak lanjut, Dinas ESDM Sulteng meminta pihak koperasi segera memasang rambu peringatan dan garis pembatas pada titik rawan longsor. Masyarakat juga diimbau agar beraktivitas di lokasi yang lebih aman.

Selain itu, pemetaan topografi menggunakan teknologi lidar didorong untuk memantau perubahan bentang lahan. Mekanisme kerja sama antara pendulang dan koperasi juga diminta ditata kembali sesuai ketentuan.

Dinas ESDM turut mengingatkan agar metode penggalian yang membentuk tebing curam dan berisiko tinggi tidak lagi dilakukan. Percepatan proses perizinan IPR juga didorong guna mendukung penataan lokasi serta penerapan kaidah teknis pertambangan yang baik (Good Mining Practice).

Baca Juga:  Aksi Seru Stunt Rider di Kota Palu Bikin Penonton Deg-degan!

Pihak koperasi dilaporkan telah memberikan santunan tali asih kepada keluarga korban.

Dinas ESDM menegaskan pentingnya penerapan kaidah teknis pertambangan yang baik demi keselamatan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan di WPR Tambang Emas Kayuboko, Parigi Barat.

RED

Advertisement