Sabtu, 12 September 2026

Tepian Danau Poso yang Mendadak Menjadi Lapangan

Air surut, daratan terbuka. Warga berjalan dan mengendarai sepeda motor di hamparan yang biasanya menjadi bagian dari Danau Poso. Di balik pemandangan yang tampak seperti ruang bermain baru itu, muka air danau sedang berada dalam tekanan kemarau.

Tepian Danau Poso yang surut hingga membentuk hamparan tanah luas dengan warga dan sepeda motor di tengahnya.
Danau Poso surut dan membuka hamparan luas di tepian danau. Warga memanfaatkan ruang yang muncul, sementara kondisi ini menjadi gambaran perubahan muka air di tengah kemarau. Foto: Istimewa
Advertisement

Sepeda motor itu berhenti di tengah hamparan yang nyaris tak berujung. Tidak ada jalan aspal. Tidak ada marka. Di hadapannya terbentang permukaan tanah yang basah dan rata, sementara perbukitan hijau berdiri di seberang.

Tempat itu semestinya air.

Namun pada September ini, tepian Danau Poso mundur jauh. Bagian danau yang mengering berubah menjadi ruang terbuka. Warga berjalan di atasnya. Anak-anak bermain. Sepeda motor melintas. Dari kejauhan, orang-orang tampak seperti sedang memenuhi sebuah lapangan raksasa.

Video yang beredar di memperlihatkan perubahan itu dari berbagai sudut. Garis air berada jauh di belakang kerumunan warga. Bekas aliran air membentuk pola-pola di permukaan tanah. Di beberapa bagian masih terdapat genangan dangkal yang tersisa.

Pemandangannya menarik mata.

Tetapi ada sesuatu yang tidak terlihat dalam video itu: air yang hilang sedang menjadi angka.

Dua meter yang mengubah wajah danau

Balai Wilayah Sungai Sulawesi III mencatat elevasi muka air Danau Poso sekitar 510,267 meter. Angka itu turun kurang lebih dua meter dibandingkan muka air tertinggi sebelumnya, sekitar 512,2 meter. Penyebab utamanya adalah kondisi kemarau panjang.

Penurunan itu membuat perubahan di tepian danau terlihat begitu mencolok.

Baca Juga:  Ahmad Ali Minta Warga Sulteng Ingatkan Janji Politiknya

Air yang biasanya menjadi batas antara daratan dan perbukitan kini mundur. Ruang yang terbuka bukanlah tanah baru. Ia hanya bagian dari dasar tepian danau yang untuk sementara muncul ke permukaan.

Bagi warga, perubahan itu menghasilkan pemandangan yang tidak biasa.

Bagi pengelola sumber daya air, perubahan tersebut merupakan peringatan.

Kabupaten Poso bersama PLN bahkan meninjau kondisi Danau Poso pada 5 September 2026. Peninjauan itu dilakukan setelah debit Sungai Poso dan inflow Danau Poso menurun dibandingkan kondisi normal.

Dalam pemantauan tersebut, muka air disebut turun dengan tren rata-rata sekitar dua sentimeter per hari. Jika tren berlanjut sementara musim kemarau masih berlangsung, muka air berpotensi kembali turun.

Lapangan yang sebenarnya bukan lapangan

Di atas hamparan yang baru terbuka itu, kehidupan berlangsung seperti biasa.

Ada yang berjalan berkelompok. Ada yang berhenti untuk berfoto. Sepeda motor melintas di permukaan yang tampak cukup padat. Anak-anak berlari di kejauhan.

Sulit membayangkan bahwa beberapa waktu sebelumnya tempat itu berada di bawah air.

Inilah ironi sebuah danau yang sedang surut: semakin banyak daratan yang terlihat, semakin besar pula pertanyaan tentang ke mana air pergi dan apa yang terjadi jika air terus berkurang.

Baca Juga:  Mengenang Tragedi 28 September

Perubahan garis air juga bukan semata persoalan estetika.

Danau Poso memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar bentang alam. Airnya menjadi bagian penting dalam sistem pembangkitan PLTA Poso.

PT Poso Energy menyebut elevasi air pada September 2026 berada sekitar 510,3 meter di atas permukaan laut, turun sekitar 1,6 meter dibandingkan puncak elevasi pada Mei. Kondisi itu berdampak pada kinerja turbin dan energi listrik yang dihasilkan.

Advertisement

PLTA Poso sendiri memasok sistem kelistrikan yang melayani empat provinsi di Sulawesi: Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, , dan .

Maka setiap penurunan permukaan danau memiliki cerita lain di baliknya.

Bukan hanya tentang tepian yang melebar.

Tetapi juga tentang cadangan air dan energi.

Ketika air menjadi lebih mahal

Di sekitar Danau Poso, persoalan itu juga dirasakan masyarakat yang memanfaatkan air untuk pertanian.

Ketika garis air mundur, jarak antara pompa dan sumber air ikut bertambah. Petani harus beradaptasi dengan kondisi yang berubah.

Di satu sisi, hamparan tanah yang luas terlihat seperti ruang baru.

Di sisi lain, bagi sebagian warga, ia adalah jarak tambahan yang harus ditempuh untuk mendapatkan air.

Baca Juga:  Parigi Moutong Luncurkan Cek Kesehatan Gratis di 283 Desa dan Kelurahan

Kemarau membuat persoalan tersebut semakin nyata.

Karena itu, penurunan muka air Danau Poso tidak bisa hanya dibaca dari apa yang tampak dalam video. Permukaan yang mengering hanyalah bagian paling mudah dilihat dari sebuah perubahan hidrologis yang lebih luas.

Danau menunggu hujan

Pemerintah dan pengelola PLTA kini memantau elevasi danau, debit Sungai Poso, inflow dan outflow, serta perkembangan curah hujan.

PT Poso Energy juga melakukan langkah mitigasi melalui modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan inflow ke Danau Poso.

Namun hujan tetap menjadi bagian penting dari cerita.

Selama hujan belum cukup mengisi kembali daerah tangkapan air, garis danau akan tetap berada di belakang posisi yang biasa dikenal masyarakat.

Hamparan yang kini terlihat luas itu pun akan terus menjadi semacam halaman terbuka—tempat orang berjalan, bermain, dan mengambil gambar.

Sampai suatu hari air datang kembali.

Dan ketika air kembali memenuhi ruang itu, lapangan raksasa tersebut akan lenyap perlahan.

Jejak sepeda motor menghilang. Orang-orang mundur ke tepian. Genangan menyatu dengan badan danau.

Yang tersisa hanya ingatan tentang sebuah masa ketika Danau Poso pernah terlihat seperti lapangan.

AMB

Advertisement