Kamis, 16 Juli 2026

Parigi Moutong Gandeng Poltekkes Kemenkes Percepat Penurunan Stunting

Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid membuka Program INEY Fase II bersama Poltekkes Kemenkes Palu.
Wakil Bupati Parigi Moutong Abdul Sahid membuka Pendampingan Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II Tahun 2026 yang dilaksanakan Poltekkes Kemenkes Palu sebagai upaya memperkuat kolaborasi percepatan penurunan stunting di Kabupaten Parigi Moutong. Foto: Pemkab Parimo
Advertisement

Parigi Moutong, MediaPalu.com Kabupaten Parigi Moutong memperkuat kolaborasi dengan Politeknik (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Palu untuk mempercepat penurunan stunting melalui pelaksanaan Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II Tahun 2026.

Program tersebut dibuka Wakil Parigi Moutong Abdul Sahid, mewakili Bupati Erwin Burase, di Aula Lantai II Kantor Bupati Parigi Moutong, Senin (6/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan intervensi kesehatan dan gizi bagi remaja putri, ibu hamil, bayi, balita, hingga kader .

Membacakan sambutan Bupati, Abdul Sahid menyampaikan apresiasi kepada Poltekkes Kemenkes Palu yang terus mendampingi Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong dalam upaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus menekan angka stunting.

“Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan dalam memperkuat intervensi percepatan penurunan stunting. Kami berharap seluruh pihak dapat bergerak bersama agar setiap anak di Parigi Moutong memperoleh haknya untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal,” kata Abdul Sahid.

Baca Juga:  Kapolresta Palu Pastikan Nataru Aman dan Kondusif

Ia menjelaskan Program INEY merupakan kerja sama Poltekkes Kemenkes Palu dengan Direktorat Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan yang didukung Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia. Program tersebut berfokus pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi sejak remaja, masa kehamilan, hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Intervensi yang dilakukan meliputi pencegahan anemia pada remaja putri, pelayanan kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi bayi dan balita, pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI sesuai standar, imunisasi lengkap, hingga peningkatan kapasitas kader Posyandu.

Advertisement

Menurut Abdul Sahid, stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berdampak terhadap perkembangan otak, kemampuan belajar, kesehatan, dan produktivitas pada masa depan.

Data Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menunjukkan prevalensi stunting dalam lima tahun terakhir mengalami fluktuasi, yakni 10,9 persen pada 2021, 9,1 persen pada 2022, 9,8 persen pada 2023, 8,7 persen pada 2024, dan 9,3 persen pada 2025.

“Fluktuasi ini menjadi pengingat bahwa kerja keras kita belum selesai. Dibutuhkan komitmen yang berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan agar angka stunting terus ditekan secara konsisten,” ujarnya.

Baca Juga:  Mudik Lebaran 2026, Polisi Petakan Jalur Rawan Kecelakaan di Sulawesi Tengah

Sebagai tahap awal pelaksanaan Program INEY Fase II, Puskesmas Siniu dan Puskesmas Ampibabo ditetapkan sebagai wilayah percontohan (pilot project) di Kabupaten Parigi Moutong. Program diawali dengan analisis situasi dan penguatan koordinasi lintas sektor, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan kepada sasaran di Posyandu maupun tingkat keluarga.

ADV-MP

Advertisement